Title: Love Stranger
Genre: Angst, Romance
Casts: Soon
Categories: Chapters
All copyright is mine. Take with full credits.
All copyright is mine. Take with full credits.
Sebuah
tepian sungai yang biasanya ramai malam itu tampak lenggang dari kesesakkan.
Hanya ada seorang gadis dengan rambut bergelombang yang terurai tertiup angin.
Kepalanya memangku pada kedua tangannya yang kini sedang terlipat di atas
pegangan jembatan, sementara kakinya melayang menaiki satu pijakan jembatan
dengan tegasnya. Sesekali ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya
bersama uap putih yang dilebur oleh kibasan angin malam itu. Guratan wajahnya
jelas menunjukkan jiwanya kini sedang berkejar-kejaran memikirkan setiap
penggal kejadian yang berusaha ia satukan menjadi sebuah cerita yang utuh.
Ditatapnya sungai yang kini indahnya menerobos pupil coklat kedua bola matanya.
Berharap ketenangan yang dipancarkan sungai itu mampu menenangkan hatinya juga.
Dia
berusaha memikirkan dengan jernih apa-apa yang mengganjal dalam hatinya. Meski
ia merasa ingin meledak, selalu saja sebingkai keceriaan memancar dari matanya.
Dia tidak akan menangis. Atau tidak boleh menangis untuk tepatnya. Kejadian
malam itu jelas menjadi klimaks dari masalahnya. Menyempurnakan kehancuran
hidupnya yang kini sedang ia coba satukan. Meski puing-puing itu terlalu kecil,
berserakan dimana-mana, atau mungkin terbawa orang? Entahlah. Apa masih ada
harapan untuk hidupnya? Jika memang tidak... biar dia memaksakan kehendak
tuhan. Selamanya dia tidak akan pernah menyerah. Tidak akan dengan semudah itu
menyerahkan hidupnya. Meski untuk itu, tidak akan ada lagi kebahagiaan yang
menopangnya.
Jung
Hyejin tertegun tatkala satu demi satu kilasan wajah melintas di depan matanya.
Apa yang salah dengan hidupnya? Semuanya pergi, meninggalkannya berteman dengan
sunyi. Dia bahkan belum dewasa. Masih banyak hal yang perlu dia jamah. Bukan seorang
diri. Bukan dengan sepi. Melainkan bersamanya, bersama mereka. Hyejin terlalu
lelah berpikir, membuat alam bawah sadarnya perlahan merayapi setiap inci
kesadarannya, membawa dirinya melayang bersama angan indah di dunia yang lain. Dia
tertidur, ya tertidur, masih di atas jembatan tadi. Semantara itu, sepersikan
meter jauhnya, sepasang iris hitam tengah memperhatikan tiap-tiap gerakannya. Tampak
menunggu sebuah klise kejadian yang akan terjadi setelah itu.