Monday, May 6, 2013

Love Stranger (First Sight)

Posted by E.A.S at 10:23 AM

Title: Love Stranger
Genre: Angst, Romance
Casts: Jung Hyejin (OC), Yook Sungjae (BToB)
Categories: Chapters

All copyright is mine. Take with full credits.



Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika Yook Sungjae baru pulang berpesta dengan teman-temannya malam itu. Tubuhnya sedikit lunglai karena dia meminum beberapa gelas soju sebelumnya. Tak hentinya ia menguap, memang pesta yang melelahkan. Dia sengaja tidak menggunakan bus untuk pulang, berjalan-jalan sambil melihat suasana malam kota Seoul cukup membuat otaknya segar. Asap mengepul keluar dari mulut dan hidungnya setiap kali ia menghembuskan nafas. Meski pakaiannya sudah setebal orang eskimo, tapi cuaca dingin tetap saja memiliki jalan untuk masuk ke dalam tubuh, menusuk beberapa organ dalamnya.

“Dingin sekali..” batinnya sambil sesekali menggosokan kedua telapak tangannya yang terbungkus sarung tangan.

Ia berjalan menyusuri Sungai Han. Sedikit keheranan karena melihat sungai itu tidak ramai seperti biasanya. Ah, mungkin karena cuaca yang ekstrim dan waktu yang sudah terlalu larut. Meskipun begitu bingkai keindahan Sungai Han tak pernah ada habisnya. Sungjae melihat sekitar dan terperanjat ketika mendapati seorang gadis sedang berdiri dibagian tengah jembatan Banpo. Kakinya tampak melayang. Setan atau manusia? Sungjae yang masih sedikit berada di bawah pengaruh alkohol memutuskan untuk melihat lebih dekat siluet tersebut. Ia menghela nafas lega karena ternyata gadis yang dilihatnya adalah manusia, kedua kakinya berpijak pada undakan di pegangan jembatan Banpo.

Gadis itu sedang melamun, dari pakaiannya jelas sekali bahwa dia seorang pelajar sekolah tinggi. Mata gadis tersebut menatap kosong pada hamparan Sungai Han di depannya. Apa yang ia lakukan malam-malam begini di tempat seperti ini. Sungjae menaikkan satu alisnya, mencoba berpikir jernih. Gadis itu tak bergerak sama sekali, aneh. Apa dia kerasukan? Bisa jadi. Entah apa magnet yang dipancarkan gadis tersebut hingga Sungjae tak mampu beranjak dari posisinya, seakan pemandangan di depannya merupakan sesuatu yang berharga dan menyenangkan untuk dilihat. Ia terus memandangi gadis tadi, hingga sebuah gerakan kecil diperlihatkan darinya. Kepala gadis itu perlahan turun menuju tangannya yang dilipat di atas jembatan Banpo. Sungjae terbelalak. Bagaimana bisa dia baru menyadarinya. Gadis itu akan bunuh diri!

“Yaaaah!!” Sungjae segera beranjak dari posisinya dan menarik tangan gadis tersebut ke pelukannya.

Hyejin yang tengah tertidur pulas terperanjat merasakan sesuatu menarik tangannya. Seluruh tubuhnya menegang saat ia menyentuh dada seseorang yang kini memeluknya dengan erat. Pikirannya masih setengah sadar dan meraba-raba dalam gelap. Bersamaan dengan itu, perlahan aroma tubuh dari pakaian hangat orang tersebut masuk ke dalam indra penciumannya. Wangi mocca... bukan wangi yang ia kenal. Dan ada wangi lain yang sangat familiar di hidungnya, wangi apa? Dari postur tubuhnya jelas sekali ia seorang pria. Siapa? Mungkinkah ‘dia’? Sebuah tepukan pelan di puncak kepalanya kembali membuat Hyejin terperanjat. Ia mengangkat dagunya untuk melihat oknum yang telah dengan lancangnya menarik tubuhnya.

Hyejin menatap siluet pria tersebut. Wajahnya tampan terpantul sinar bulan. Tapi siapa? Wajah laki-laki itu benar-benar asing. Sungjae tahu dia sedang diperhatikan dan balas menatap Hyejin, membuat mata mereka tidak sengaja bertemu. Sungjae yang baru sadar memeluk Hyejin segera melepaskan pelukannya.

“E.. eh. Mianhamnida,” Sungjae meminta maaf sembari membungkuk-bungkukan tubuhnya.

Hyejin hanya mengangkat alis lalu berbalik dan pergi meninggalkan Sungjae di jembatan Banpo. Dia sedang tidak berselera untuk beragumen ataupun memikirkan lebih lanjut kejadian tadi. Sementara Sungjae menatap punggung Hyejin kebingungan. Gadis macam apa yang tiba-tiba pergi tanpa pamit seperti itu. Tidak tahu sopan santun. Bagaimanapun juga Sungjae sudah menyelamatkan nyawanya. Setidaknya dia mendapat ciuman untuk perbuatannya heroiknya itu. Sungjae kembali berpikir, apa mungkin gadis itu mencari tempat lain untuk bunuh diri?

Hyejin terus berjalan santai sembari mengembalikan kesadarannya yang belum penuh. Dia mencoba memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Siapa namja tadi? Mengapa namja itu memeluknya? Berbagai pertanyaan terus berlari-lari dipikirannya, penggalan-penggalan kejadian tadi saling bersatu menjadi cerita yang utuh. Hyejin berpikir sejenak, mengingat wajah pemuda itu, mata mereka sempat bertemu dan menambah kesan yang lebih intens. Tanpa sadar Hyejin menyunggingkan senyumnya dan tersipu. Namja itu tampan juga. Ah, apa ini yang dimaksud love at the first sight? Hyejin menghirup udara malam dengan semangat, pertemuannya dengan laki-laki tadi kembali  menumbuhkan taman asri di dalam hatinya. Dengan perlahan, aroma laki-laki tadi masuk ke indra penciuman Hyejin. Benar-benar wangi mocca yang menenangkan. Kembali satu aroma masuk ke hidung Hyejin, menyentuh kepekaan bagian dalamnya. Wanginya tidak asing, tapi tidak begitu menonjol. Hyejin memutar otaknya yang akhirnya mengirimkan jawaban pada kepekaannya. Bukannya ini wangi... alkohol? Seketika suasana sepi dan mencekam menyergap. Bagaimana dia bisa sebodoh itu. Seorang lelaki asing berbau alkohol yang masih berkeliaran selarut ini tiba-tiba menarik tangannya dan memeluk tubuhnya. Sudah tentu laki-laki itu memiliki rencana jahat.

“Aish, paboya!” Hyejin merutuk sembari memukul-mukul kepalanya pelan. Hingga di tengah kesunyian itu, ia mendengar suara derap kaki di belakangnya.

Sungjae yang akhirnya memutuskan mengikuti gadis bodoh –atau tidak tahu sopan santun- yang ditemuinya tadi, sedikit keheranan melihat sang objek tiba-tiba mempercepat tempo jalannya. Sungjae berusaha mengikuti tempo tersebut namun langkah kaki gadis itu semakin cepat dan terlihat seperti berlari. Gawat! Pasti tempat untuk percobaan bunuh diri selanjutnya sudah semakin dekat. Sungjae terus menyamai tempo berjalannya dengan gadis itu. Hingga sampai di depan sebuah taman, gadis tersebut berbalik.

“Berhenti disitu!” ucap Hyejin dengan nada yang sedikit membentak. Sungjae terperanjat dan terpaku di tempatnya. Hyejin menatap Sungjae dengan ketakutan. Namun Sungjae malah berjalan pelan menghampirinya. Sementara Hyejin berjalan mundur.

“Jangan mendekat!” Hyejin meninggikan nada bicaranya. Jantungnya berdebar dengan kencang. Apa ini akhir dari hidupnya? Mati di tangan pria asing yang mungkin adalah pembunuh bayaran atau hanya psikopat yang sedang mencari korban. Konyol! Hyejin terbelalak saat melihat namja itu kembali berjalan mendekatinya.

“Kubilang jangan mendekat!” dengan cepat Hyejin mengambil pisau lipat di saku jasnya, lalu menodongkan pisau tersebut ke hadapan pria asing di depannya.

Sungjae membulatkan matanya ketika melihat Hyejin mengeluarkan pisau. Benar-benar gadis gila! Sungjae terlanjur terlibat dan tidak akan membiarkan usahanya sia-sia. Ia terus berjalan menghampiri Hyejin yang kini terus berjalan mundur menjauhinya.

Hyejin tak sanggup lagi, ketakutannya sudah sampai di puncak. Dia melihat keadaan di belakang. Sekitar 2 meter di belakangnya terdapat seperti undakan mirip jurang yang cukup tinggi. Beberapa langkah lagi ia berjalan mundur pasti jurang kecil itu akan menyambutnya. Hyejin sangat panik sementara otaknya mengirimkan pertanyaan yang bahkan Hyejin-pun tak tahu apa jawabannya, mati di tangan pria asing atau mati karena jatuh ke dalam jurang. Ia terus berjalan mundur sementara Sungjae terus berjalan mendekatinya. Hyejin meneguk ludah, merasakan kerongkongannya begitu kering. Tepat 2 langkah lagi dia akan sampai pada akhir hidupnya. Perlahan Hyejin melangkahkan kakinya ke belakang, dan ketika kaki kanannya hendak mendarat, sebuah batu cukup besar dengan sengaja menyandungnya, membuat Hyejin terjengkang ke belakang. Hyejin memejamkan matanya, dia akan mati. Beberapa saat lagi pasti tubuhnya akan jatuh dan menyentuh permukaan jurang, entah benda seperti apa yang akan menyambut kematiannya itu.

-to be continued-
 

GET YOUR CRAYON Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review