Title: Love Stranger
Genre: Angst, Romance
Casts: Jung Hyejin (OC), Yook Sungjae (BToB)
Categories: Chapters
All copyright is mine. Take with full credits.
All copyright is mine. Take with full credits.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika Yook Sungjae baru pulang berpesta dengan
teman-temannya malam itu. Tubuhnya sedikit lunglai karena dia meminum beberapa
gelas soju sebelumnya. Tak hentinya ia menguap, memang pesta yang melelahkan.
Dia sengaja tidak menggunakan bus untuk pulang, berjalan-jalan sambil melihat
suasana malam kota Seoul cukup membuat otaknya segar. Asap mengepul keluar dari
mulut dan hidungnya setiap kali ia menghembuskan nafas. Meski pakaiannya sudah
setebal orang eskimo, tapi cuaca dingin tetap saja memiliki jalan untuk masuk
ke dalam tubuh, menusuk beberapa organ dalamnya.
“Dingin
sekali..” batinnya sambil sesekali menggosokan kedua telapak tangannya yang
terbungkus sarung tangan.
Ia
berjalan menyusuri Sungai Han. Sedikit keheranan karena melihat sungai itu
tidak ramai seperti biasanya. Ah, mungkin karena cuaca yang ekstrim dan waktu
yang sudah terlalu larut. Meskipun begitu bingkai keindahan Sungai Han tak
pernah ada habisnya. Sungjae melihat sekitar dan terperanjat ketika mendapati
seorang gadis sedang berdiri dibagian tengah jembatan Banpo. Kakinya tampak
melayang. Setan atau manusia? Sungjae yang masih sedikit berada di bawah
pengaruh alkohol memutuskan untuk melihat lebih dekat siluet tersebut. Ia
menghela nafas lega karena ternyata gadis yang dilihatnya adalah manusia, kedua
kakinya berpijak pada undakan di pegangan jembatan Banpo.
Gadis
itu sedang melamun, dari pakaiannya jelas sekali bahwa dia seorang pelajar
sekolah tinggi. Mata gadis tersebut menatap kosong pada hamparan Sungai Han di
depannya. Apa yang ia lakukan malam-malam begini di tempat seperti ini. Sungjae
menaikkan satu alisnya, mencoba berpikir jernih. Gadis itu tak bergerak sama
sekali, aneh. Apa dia kerasukan? Bisa jadi. Entah apa magnet yang dipancarkan
gadis tersebut hingga Sungjae tak mampu beranjak dari posisinya, seakan
pemandangan di depannya merupakan sesuatu yang berharga dan menyenangkan untuk
dilihat. Ia terus memandangi gadis tadi, hingga sebuah gerakan kecil
diperlihatkan darinya. Kepala gadis itu perlahan turun menuju tangannya yang
dilipat di atas jembatan Banpo. Sungjae terbelalak. Bagaimana bisa dia baru
menyadarinya. Gadis itu akan bunuh diri!
“Yaaaah!!”
Sungjae segera beranjak dari posisinya dan menarik tangan gadis tersebut ke
pelukannya.
Hyejin
yang tengah tertidur pulas terperanjat merasakan sesuatu menarik tangannya.
Seluruh tubuhnya menegang saat ia menyentuh dada seseorang yang kini memeluknya
dengan erat. Pikirannya masih setengah sadar dan meraba-raba dalam gelap.
Bersamaan dengan itu, perlahan aroma tubuh dari pakaian hangat orang tersebut
masuk ke dalam indra penciumannya. Wangi mocca... bukan wangi yang ia kenal. Dan
ada wangi lain yang sangat familiar di hidungnya, wangi apa? Dari postur
tubuhnya jelas sekali ia seorang pria. Siapa? Mungkinkah ‘dia’? Sebuah tepukan
pelan di puncak kepalanya kembali membuat Hyejin terperanjat. Ia mengangkat
dagunya untuk melihat oknum yang telah dengan lancangnya menarik tubuhnya.
Hyejin
menatap siluet pria tersebut. Wajahnya tampan terpantul sinar bulan. Tapi
siapa? Wajah laki-laki itu benar-benar asing. Sungjae tahu dia sedang
diperhatikan dan balas menatap Hyejin, membuat mata mereka tidak sengaja
bertemu. Sungjae yang baru sadar memeluk Hyejin segera melepaskan pelukannya.
“E..
eh. Mianhamnida,” Sungjae meminta maaf sembari membungkuk-bungkukan tubuhnya.
Hyejin
hanya mengangkat alis lalu berbalik dan pergi meninggalkan Sungjae di jembatan
Banpo. Dia sedang tidak berselera untuk beragumen ataupun memikirkan lebih
lanjut kejadian tadi. Sementara Sungjae menatap punggung Hyejin kebingungan.
Gadis macam apa yang tiba-tiba pergi tanpa pamit seperti itu. Tidak tahu sopan
santun. Bagaimanapun juga Sungjae sudah menyelamatkan nyawanya. Setidaknya dia
mendapat ciuman untuk perbuatannya heroiknya itu. Sungjae kembali berpikir, apa
mungkin gadis itu mencari tempat lain untuk bunuh diri?
Hyejin
terus berjalan santai sembari mengembalikan kesadarannya yang belum penuh. Dia
mencoba memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Siapa namja tadi? Mengapa
namja itu memeluknya? Berbagai pertanyaan terus berlari-lari dipikirannya,
penggalan-penggalan kejadian tadi saling bersatu menjadi cerita yang utuh.
Hyejin berpikir sejenak, mengingat wajah pemuda itu, mata mereka sempat bertemu
dan menambah kesan yang lebih intens. Tanpa sadar Hyejin menyunggingkan
senyumnya dan tersipu. Namja itu tampan juga. Ah, apa ini yang dimaksud love at
the first sight? Hyejin menghirup udara malam dengan semangat, pertemuannya
dengan laki-laki tadi kembali
menumbuhkan taman asri di dalam hatinya. Dengan perlahan, aroma
laki-laki tadi masuk ke indra penciuman Hyejin. Benar-benar wangi mocca yang
menenangkan. Kembali satu aroma masuk ke hidung Hyejin, menyentuh kepekaan
bagian dalamnya. Wanginya tidak asing, tapi tidak begitu menonjol. Hyejin
memutar otaknya yang akhirnya mengirimkan jawaban pada kepekaannya. Bukannya
ini wangi... alkohol? Seketika suasana sepi dan mencekam menyergap. Bagaimana
dia bisa sebodoh itu. Seorang lelaki asing berbau alkohol yang masih
berkeliaran selarut ini tiba-tiba menarik tangannya dan memeluk tubuhnya. Sudah
tentu laki-laki itu memiliki rencana jahat.
“Aish,
paboya!” Hyejin merutuk sembari memukul-mukul kepalanya pelan. Hingga di tengah
kesunyian itu, ia mendengar suara derap kaki di belakangnya.
Sungjae
yang akhirnya memutuskan mengikuti gadis bodoh –atau tidak tahu sopan santun-
yang ditemuinya tadi, sedikit keheranan melihat sang objek tiba-tiba
mempercepat tempo jalannya. Sungjae berusaha mengikuti tempo tersebut namun
langkah kaki gadis itu semakin cepat dan terlihat seperti berlari. Gawat! Pasti
tempat untuk percobaan bunuh diri selanjutnya sudah semakin dekat. Sungjae
terus menyamai tempo berjalannya dengan gadis itu. Hingga sampai di depan
sebuah taman, gadis tersebut berbalik.
“Berhenti
disitu!” ucap Hyejin dengan nada yang sedikit membentak. Sungjae terperanjat
dan terpaku di tempatnya. Hyejin menatap Sungjae dengan ketakutan. Namun Sungjae
malah berjalan pelan menghampirinya. Sementara Hyejin berjalan mundur.
“Jangan
mendekat!” Hyejin meninggikan nada bicaranya. Jantungnya berdebar dengan
kencang. Apa ini akhir dari hidupnya? Mati di tangan pria asing yang mungkin
adalah pembunuh bayaran atau hanya psikopat yang sedang mencari korban. Konyol!
Hyejin terbelalak saat melihat namja itu kembali berjalan mendekatinya.
“Kubilang
jangan mendekat!” dengan cepat Hyejin mengambil pisau lipat di saku jasnya,
lalu menodongkan pisau tersebut ke hadapan pria asing di depannya.
Sungjae
membulatkan matanya ketika melihat Hyejin mengeluarkan pisau. Benar-benar gadis
gila! Sungjae terlanjur terlibat dan tidak akan membiarkan usahanya sia-sia. Ia
terus berjalan menghampiri Hyejin yang kini terus berjalan mundur menjauhinya.
Hyejin
tak sanggup lagi, ketakutannya sudah sampai di puncak. Dia melihat keadaan di
belakang. Sekitar 2 meter di belakangnya terdapat seperti undakan mirip jurang
yang cukup tinggi. Beberapa langkah lagi ia berjalan mundur pasti jurang kecil
itu akan menyambutnya. Hyejin sangat panik sementara otaknya mengirimkan
pertanyaan yang bahkan Hyejin-pun tak tahu apa jawabannya, mati di tangan pria
asing atau mati karena jatuh ke dalam jurang. Ia terus berjalan mundur
sementara Sungjae terus berjalan mendekatinya. Hyejin meneguk ludah, merasakan
kerongkongannya begitu kering. Tepat 2 langkah lagi dia akan sampai pada akhir
hidupnya. Perlahan Hyejin melangkahkan kakinya ke belakang, dan ketika kaki
kanannya hendak mendarat, sebuah batu cukup besar dengan sengaja menyandungnya,
membuat Hyejin terjengkang ke belakang. Hyejin memejamkan matanya, dia akan
mati. Beberapa saat lagi pasti tubuhnya akan jatuh dan menyentuh permukaan
jurang, entah benda seperti apa yang akan menyambut kematiannya itu.
-to be continued-